Senin, 04 Februari 2013

Kenangan masa lalu, rekaman masa kini dan keinginan untuk masa depan


Batipuh Tempo Dulu,…foto-foto keseharian masyarakat tahun 1900′an
Posted in Ranah Minang by Khairul Hamdi on Maret 16, 2011

Malam ini iseng-iseng saya searching di commons wikipedia mencari data tentang kata “batipuh”. Maka hasilnya adalah foto-foto dibawah ini. Foto-foto ini disimpan di salah satu museum online negeri Belanda.Ini adalah foto sebuah rangkiang yang biasa digunakan untuk menyimpan pada padi sesudah panen. Semua padi sehabis dijemur disinar matahari disimpan dirangkiang ini. Terus terang saya kurang yakin ini dinagari Batipuh bagian mana,apakah Batipuh Baruh atau Batipuh Ateh. Kalau kita lihat gambar beberapa orang dewasa ini dalam foto ini, kemungkin ini ada para Datuak. Para Datuak pada masa dahulu umumnya memiliki sawah yang banyak, sawah yang khusus diberikan oleh sukunya untuk digarap oleh Datuak untuk kehidupan dia dan keluarganya. Karena beras adalah komoditas yang sangat vital bagi masyarakat, maka harganya sangat tinggi pada waktu itu. Pada masa itu petani yang mempunyai lahan adalah orang-orang kaya. Keadaan seperti masih berlaku sampai akhir tahun 80′an dimana dengan adanya beberapa petak sawah dapat menjamin kelansungan hidup. Tapi keadaan sekarang tentu berbeda, sawah tidak dapat lagi diandalkan sebagai mata pencaharian utama. Sehingga anak muda lebih suka melanjutkan pendidikannya menjadi serorang profesonal atau terjun menjadi enterpreunur/pedagang.

Gambar dibawah ini berada dinagari Batipuh Ateh, Kemungkinan gambar ini diambil di Simpang Ampek ( Simpang Empat). Kalau kita lihat beberapa Bundo Kanduang ini menderita penyakit gondok. Hal ini disebabkan kurangnya Iodiom yang berasal dari garam laut. Bisa jadi Ibu-Ibu tempo dulu ini jarang menggunakan garam dapur karena harganya yang mahal. Harga mahal bisa jadi disebabkan karena Batipuh sendiri berada pada daerah pegunungan (daerah darek) yang jauh laut. Distribusi yang jauh menyebabkan harga garam yang mahal sehingga digunakan hanya oleh sebagian kalangan saja. Beberapa Ibu-ibu ini mengangkut goni yang isinya rumput. Rumput ini digunakan untuk memberi makanan ternak (biasanya kerbau) yang digunakan untuk membajak sawah.

Beberapa anak-anak tempo dulu, kemungkinan mereka semuanya satu keluarga dan berasal dari keluarga kaya, bisa jadi anak-anak dari Datuk. Biasanya Datuk memiliki istri lebih dari satu, Datuk yang memiliki hanya satu istri mungkin Datuk yang miskin. Biasanya Datuk yang beristri satu ini memiliki harta kekayaan yang sedikit dan kurang berpengaruh dikaumnya.



Tempat dibawah ini saya juga kurang pasti dimana lokasinya, kemungkinan adalah di Balai Gadang. Karena dilokasi ini terdapat sebuah Balai (ruang pertemuan) yang didepannya terdapat sebuah lapangan. Di Balai Gadang ini dahulunya pada masa kerajaan Pagaruyung berdiam Tuanku Nan Gadang yang dikenal sebagai Harimau Batipuh,yang mempunyai kedudukan sebagai panglima militer kerajaan Pagaruyung. Daerah Batipuh ini beberapa kali menjadi tempat pertumpahan darah. Mulai dari perang Paderi dimana golongan Adat melawan golongan Agama. Pada waktu itu Batipuh menjadi basis golongan adat yang dipimpin oleh Datuk Pamuncak yang memberontak terhadap koleganya sendiri pasukan Belanda tahun 1841. Kemudian pada zaman revolusi tahun 60′an wilayah ini terjadi pergesekan antara Masyumi dan Komunis yang menyebabkan terjadinya beberapa penculikan tokoh-tokoh Masyumi.




★Suka
One blogger likes this.

Tagged with: batipuh, paderi, rumah gadang

Senin, 14 Januari 2013

Wah, Mikir Dua Kali Mau Bikin Sambal, Ini Alasannya



Senin, 14 Januari 2013, 04:11 WIB
  
Wah, Mikir Dua Kali Mau Bikin Sambal, Ini Alasannya
Cabai
REPUBLIKA.CO.ID, BANDARLAMPUNG---Harga cabai merah besar mengalami kenaikan yang paling tinggi di antara komoditas kebutuhan masyarakat lainnya dalam hampir dua pekan terakhir di pasaran Kota Bandarlampung, Provinsi Lampung.

Hasil pemantauan harga komoditas di pasaran Kota Bandarlampung, dan data dari Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Lampung, menunjukkan, dari sekitar 40 jenis komoditas, tercatat ada tujuh yang naik, hanya dua yang turun, dan lainnya relatif masih stabil.
Komoditas yang mengalami peningkatan harga paling tinggi dalam dua pekan terakhir adalah cabai merah besar keriting, yaitu dari RP 14.000/Kg melejit menjadi Rp 21.500/Kg, begitu pula cabai merah besar biasa ikut terdongkrak dari Rp 14.250/Kg ke harga Rp 20.500/Kg.
Komoditas bawang merah juga menghangat, yakni dari Rp 13.500/Kg menjadi Rp 15.750/Kg.
Kenaikan cabai merah besar dan bawang merah itu antara lain karena meningkatnya jumlah permintaan, sedangkan pasokan agak berkurang, terutama bawang merah harus didatangkan dari Pulau Jawa yang terjadi kemacetan akibat banjir di jalan tol Provinsi Banten.
Sebaliknya penurunan harga daging dan semen karena persediaan melimpah, dan permintaan sedang berkurang.
Redaktur: Endah Hapsari
Sumber: antara

Minggu, 25 November 2012

Movie

http://bit.ly/YaYhXz

TERE NAAL LOVE HO GAYA

Setiap laki-laki tertarik kepada si tomboi Mini (Genelia D'Souza). Itu bukan hanya karena dia cantik, tetapi juga karena gadis ini memiliki paspor Kanada dan merupakan pewaris bisnis ayahnya Bhatti (Tinu Anand). Sayangnya, Bhatti ingin buru-buru menikahkan putrinya kepada seseorang yang tidak berkenan di hati Mini. Mini pun melarikan diri dengan berpura-pura seolah ia telah diculik oleh Viren (Ritesh Deshmukh), salah satu karyawan rendahan Bhatti. Cinta pun berkembang antara pasangan ini, seiring perjalanan menuju klimaks yang dramatis!


Actor: Riteish Deshmukh / Geneline Dsouza
Studio: Independent
Disc type: DVD
Genre: Romance / Drama
Region: India

Movie

Minggu, 28 Oktober 2012

Muncul Iklan Obral TKI di Malaysia


Senin, 29 Oktober 2012, 06:57 WIB
IST
  
Muncul Iklan Obral TKI di Malaysia
Iklan 'TKI on Sale' di Malaysia.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tenaga Kerja Indonesia (TKI) kembali mendapat pelecehan dari Malaysia. Soalnya, Negeri Jiran itu menyebarluaskan promosi penggunaan jasa TKI Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) di Malaysia. TKI seolah-olah diobral dalam iklan tersebut.
Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) mengecam keras penyebarluasan promosi itu. BNP2TKI berharap Pemerintah Malaysia melarang iklan berupa 'TKI On Sale'.

"Ini merupakan perbuatan tidak beradab yang tidak selayaknya terjadi," geram Kepala BNP2TKI, Moh Jumhur Hidayat, dalam keterangan tertulis yang diterima ROL, Ahad (28/10) malam.

Jumhur mengatakan secara teknis masih diberlakukan kebijakan penghentian sementara (moratorium) penempatan TKI PLRT ke Malaysia. "Bila tidak ada tindakan tegas dari Pemeritah Malaysia terhadap iklan itu, maka tidak mustahil pelaksanaan moratorium akan ditingkatkan menjadi kebijakan penghentian TKI PLRT secara permanen ke Malaysia," ucap Jumhur mengakhiri.